Retakan Tanah di Situbondo Semakin Meluas
By Chaca Atmika - Thursday, February 20, 2014
![]() |
| Bubi Chen |
Lahir pada awal abad 20, aliran musik asal Amerika Serikat ini telah melahirkan musisi Jazz legendaris Indonesia. Dan berikut nama-nama musisi Jazz kenamaan tanah air.
Jack Lesmana. Terlahir dengan nama Jack Lemmers ini, merupakan ayah dari Indra dan Mira Lesmana. Pada usia 12 tahun, ia berkenalan dengan musik Jazz dengan bermain dalam sebuah kelompok musik Dixieland. Di pertengahan ra 60-an, musisi Jazz kelahiran Jember, 18 Oktober 1930 ini membentuk kelompok Jazz, Indonesian All Stars, bersama Bubi Chen, Benny Mustapha, Maryono dan Jopie Chen. Kontribusi Jack Lesmana dalam industri musik Indonesia mulai tertuang, ketika dia bergabung dengan perusahaan rekaman, Irama Record, milik pengusaha Soejoso. Jack tak hanya dikenal sebagai pemusik yang terampil bermain Jazz saja, dia juga bisa memainkan instrumen gitar, bass, piano dan troombone. Pada tahun 1978, Jack bersama Indra Lesmana berkesempatan pergi ke Australia untuk tampil dalam pekan budaya Asean Trade Fair. Sepulangnya dari Australia, pada tahun 1984, Jack Lesmana sempat mendirikan sekolah musik yang bernama Forum "Musik Indra & Jack Lesmana".
Selanjutnya, ada Bubi Chen. Musisi Jazz kelahiran Surabaya, 9 Februari 1938 ini pernah membentuk sebuah grup bernama The Circle, bersama Maryono, F.X. Boy, Zainal, Tri Wijayanto dan Koes Syamsudin. Pada tahun 1960, seorang kritikur ternama dari Amerika Serikat, Willis Conover, menyebut Bubi sebagai "The Best Pianist of Asia". Bubi juga pernah membentuk Chen Trio, bersama saudaranya, Jopie dan Teddy Chen, di tahun 1950-an. Bubi Chen telah merilis banyak album, diantaranya, Bubi Chen and His Fabulous, Mengapa Kau Menangis, Mr. Jazz, Pop Jazz, Bubi Chen Plays Soft and Easy, Kedamaian, Bubi Chen and His Friends, Bubi Chen - Virtuoso, Jazz the Two of Us dan All I Am. Pada tahun 2004, Bubi Chen menerima penghargaan satya lencana pengabdian seni dari mantan Presiden Megawati. Kemudian, pada tahun 2005, Peter F. Gontha memberikan penghargaan sebagai musisi Jazz Living Legend kepada Bubi Chen. Bubi Chen juga mendapatkan "Life Achievement Award" dari Gubernur Jawa Timur, pada gelaran Wismilak the Legend of Jazz, yang diadakan pada awal tahun 2010.
Maestro Jazz selanjutnya, Bill Amirsjah Rondahaim Saragih Garingging. Pada usia 16 tahun, ia telah menjadi pemimpin band Billy Trio. Ia kemudian memimpin Band "Jazz Rider", sebelum akhirnya mulai memimpin band-band yang memanggul namanya untuk tampil di luar negeri, seperti "Bill Saragih and The Blue Notes dan Bill Saragih Trio. Pada tahun 1978, kelahiran Sindar Raya, Simalungun, Sumatera Utara, 1 Januari 1933 ini, mulai mempelajari cara mengajarkan musik Jazz dengan lebih mendalam. Pertama-tama, ia meraih diploma Berklee College of Music, lewat Berklee Correspondence Course. Setelah itu, antara 1979-1988, Bill menjadi direktur dan pengajar di Bill Saragih Musical Services. Dalam karier musiknya, Bill meraih berbagai penghargaan, diantaranya, Jakarta International Jazz Festival Awards pada 1991, the Blue Note Award, Asean Development Citra Award dan Asean Programme Consultant Indonesia Consortium.
Dan yang terakhir, ada Maryono. Guru dari Embong Rahardjo dalam bermain saksofon ini, adalah seorang peniup saxophone, klarinet dan flute, yang sepanjang hidupnya banyak dihabiskan untuk bermain musik Jazz. Pada pertengahan tahun 50-an, Maryono dan Bubi Chen telah bergabung bersama dalam Jack Lesmana Quintet dan sering mengisi sebuah program acara musik di RRI Surabaya. Pada tahun 1967, terciptalah album Djanger Bali, yang rekamannya dilakukan di Villingen, Jerman, di bawah label Saba Record. Tahun 1970, Maryono diajak bergabung oleh Mus Mualim, bersama grup musik Indonesia VI, untuk tampil dalam EXPO 1970, di Osaka, Jepang. Kemudian pada sekitar awal 1980, Maryono kembali lagi ke Jakarta dan mulai bergabung dengan Ireng Maulana All Stars.
![]() |
| Susi Susanti |
Di dunia bulu tangkis wanita, Indonesia pernah memiliki srikandi-srikandi tingkat dunia. Mereka pernah mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional.
Minarni Soedaryanto, merupakan pemain bulu tangkis wanita di era tahun 1959 sampai 1975. Minarni pernah meraih gelar juara di Asean Games tahun 1962, All England di tahun 1968, serta memperkuat Tim Uber Indonesia sebanyak 5 kali sejak tahun 1960 hingga 1975.
Di era tahun 1980-an, ada Verawaty Wiharjo atau yang juga dikenal dengan Verawaty Fajrin. Pemin bulu tangkis kelahiran Jakarta, 1 Oktober 1957 ini, merupakan pemain putri Indonesia pertama yang berhasil merebut gelar dunia, yaitu di kejuaraan dunia di Jakarta tahun 1980. Vera begitu ia biasa disapa juga berhasil meraih banyak gelar juara, baik di nomor tunggal putri, ganda putri dan ganda campuran.
Berikutya, Ivanna Lie Ing Hoa. Karier perempuan kelahiran Bandung, 7 Maret 1960 ini mulai menanjak pada tahun 1979. Berbekal juara di Denmark Open dan Sea Games di tahun 1979, namanya mulai diperhitungkan lawan. Ia juga sempat menjadi finalis kejuaraan dunia tahun 1980. Ivanna juga meraih gelar juara tunggal putri Chinese Taipei Open pada tahun 1982 dan 1984. Dengan Tim Piala Uber Indonesia, ia sempat menjadi Runner Up sebanyak 3 kali di tahun 1978, 1982 serta 1986. Runner Up beregu Asian Games pun pernah ia kantongi di tahun 1978.
Dan di era 90-an ada Lucia Fransisca Susi Susanti atau yang lebih dikenal dengan nama Susi Susanti. Atas prestasinya, Susi pernah mendapat predikat Macan Asia dan Ratu Bulu tangkis sejagad. Pemain bulu tangkis kelahiran Tasikmalaya, 11 Februari 1971 ini, merupakan orang pertama yang mengibarkan bendera merah putih di ajang Olimpiade karena berhasil meraih medali emas bersama Alan Budikusuma di Olimpiade Barcelona 1992. Ia juga pernah meraih medali perunggu di Olimpiade Atlanta 1996. Susi juga pernah mendapat predikat Ratu Bulu tangkis se-Asia Tenggara saat menjadi Juara Sea Games 5 kali berturut-turut di tahun 1987, 1989, 1991, 1993 dan 1995. Atas jasanya mengharumkan nama bangsa, pada bulan Mei 2004, International Badminton Federation memberikan penghargaan Hall of Fame kepada Susi Susanti.
COCOMO merupakan singkatan dari Constructive Cost Model yaitu algortima model estimasi biaya perangkat lunak yang dikembangkan dan diterbitkan oleh Barry Boehm. COCOMO adalah model konstruktif biaya dan dikembangkan di TRW / Northrop-Grumman pada tahun 2002. Satu hasil observasi yang paling penting dalam model ini adalah bahwa motivasi dari tiap orang yang terlibat ditempatkan sebagai titik berat. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dan kerja sama tim merupakan sesuatu yang penting, namun demikian poin pada bagian ini sering diabaikan. COCOMO adalah model terbuka, sehingga semua detail dipublikasikan, termasuk :
COCOMO terdiri dari tiga bentuk hirarki semakin rinci dan akurat. Tingkat pertama, Basic COCOMO adalah baik untuk cepat, order awal, kasar estimasi besarnya biaya perangkat lunak, namun akurasinya terbatas karena kurangnya faktor untuk memperhitungkan perbedaan atribut proyek (Cost Drivers). Intermediate COCOMO mengambil Driver Biaya ini diperhitungkan dan Rincian tambahan COCOMO account untuk pengaruh fase proyek individu.
1. Model COCOMO DasarModel COCOMO dapat diaplikasikan dalam tiga tingkatan kelas:a. Proyek organik (organic mode)Proyek organik merupakan proyek dengan ukuran relatif kecil, dengan anggota tim yang sudah berpengalaman dan mampu bekerja pada permintaan yang relatif fleksibel.b. Proyek sedang (semi-detached mode)Proyek sedang merupakan proyek yang memiliki ukuran dan tingkat kerumitan yang sedang dan tiap anggota tim memiliki tingkat keahlian yang berbedac. Proyek terintegrasi (embedded mode)Proyek terintegrasi merupakan proyek yang dibangun dengan spesifikasi dan operasi yang ketat .
• E : besarnya usaha (orang-bulan)• D : lama waktu pengerjaan (bulan)• KLOC : estimasi jumlah baris kode (ribuan)• P : jumlah orang yang diperlukan.
Pengembangan model COCOMO adalah dengan menambahkan atribut yang dapat menentukan jumlah biaya dan tenaga dalam pengembangan perangkat lunak, yang dijabarkan dalam kategori dan subkatagori sebagai berikut:a. Atribut produk (product attributes)1. Reliabilitas perangkat lunak yang diperlukan (RELY)2. Ukuran basis data aplikasi (DATA)3. Kompleksitas produk (CPLX)b. Atribut perangkat keras (computer attributes)1. Waktu eksekusi program ketika dijalankan (TIME)2. Memori yang dipakai (STOR)3. Kecepatan mesin virtual (VIRT)4. Waktu yang diperlukan untuk mengeksekusi perintah (TURN)c. Atribut sumber daya manusia (personnel attributes)1. Kemampuan analisis (ACAP)2. Kemampuan ahli perangkat lunak (PCAP)3. Pengalaman membuat aplikasi (AEXP)4. Pengalaman penggunaan mesin virtual (VEXP)5. Pengalaman dalam menggunakan bahasa pemrograman (LEXP)d. Atribut proyek (project attributes)1. Penggunaan sistem pemrograman modern(MODP)2. Penggunaan perangkat lunak (TOOL)3. Jadwal pengembangan yang diperlukan (SCED)
Model COCOMO II, pada awal desainnya terdiri dari 7 bobot pengali yang relevan dan kemudian menjadi 16 yang dapat digunakan pada arsitektur terbarunya.Sama seperti COCOMO Intermediate (COCOMO81), masing-masing sub katagori bisa digunakan untuk aplikasi tertentu pada kondisi very low, low, manual, nominal, high maupun very high. Masing-masing kondisi memiliki nilai bobot tertentu. Nilai yang lebih besar dari 1 menunjukkan usaha pengembangan yang meningkat, sedangkan nilai di bawah 1 menyebabkan usaha yang menurun. Kondisi Laju nominal (1) berarti bobot pengali tidak berpengaruh pada estimasi. Maksud dari bobot yang digunakan dalam COCOMO II, harus dimasukkan dan direfisikan di kemudian hari sebagai detail dari proyek aktual yang ditambahkan dalam database.
Yang dimaksud dengan manager adalah orang atau seseorang yang harus mampu membuat orang-orang dalam organisasi yang berbagai karakteristik, latar belakang budaya, akan tetapi memiliki ciri yang sesuai dengan tujuan (goals) dan teknologi (technology).
Dan tugas seorang manager adalah bagaimana mengintegrasikan berbagai macam variabel (karakteristik, budaya, pendidikan dan lain sebagainya) kedalam suatu tujuan organisasi yang sama dengan cara melakukan mekanisme penyesuaian.
Adapun mekanisme yang diperlukan untuk menyatukan variabel diatas adalah sebagai berikut:
Hal tersebut memang tidak mengherankan karena posisi Manajer Proyek memegang peranan kritis dalam keberhasilan sebuah proyek terutama di bidang teknologi informasi. Berikut ini kualifikasi teknis maupun nonteknis yang harus dipenuhi seorang Manajer Proyek yang saya sarikan dari IT Project Management Handbook.
Setidaknya ada 3 karakteristik yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kualifikasi seseorang untuk menjadi Manajer Proyek yaitu:
Karakter Pribadinya
Karakteristik Kemampuan Terkait dengan Proyek yang Dikelola
Karakteristik Kemampuan Terkait dengan Tim yang Dipimpin